Suatu saat, adzan Maghrib tiba.
Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya
aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak
beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat.
Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat
sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda
untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami
segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak
ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba
menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu
shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena
terbayang teguran yang keras tadi.
Jangan Pernah Sesali Siapa dirimu, Banggalah menjadi dirimu.. Kesuksesan Orang Lain Belum Tentu yang Terbaik Bagimu..
Jumat, 30 November 2012
Jumat, 14 September 2012
Rumus Musim Semi
“Aku menyerah…,” tatapanku lesu namun tidak dengan irama
sepatu yang kian cepat saja meninggalkan ceruk-ceruk pada tanah basah di bawah
kami.
Seseorang berjalan lebih cepat mendahului kami berdua.
“Kamu tidak boleh seperti itu, Zia…” Setelah melihat orang tadi, Safira langsung menggenggam tanganku dan mempercepat langkah lagi. Aku mengikuti irama kakinya. Kulihat jam di tanganku.
“Masih ingat kan apa yang aku katakan dua hari lalu?” Matanya lekat menatapku dan aku memang harus menjawab pertanyaan itu.
Aku mengangguk lesu. “Tapi rasanya sulit sekali, Fir.” Gelenganku mengikuti kemudian.Kami menyeberang. Hampir saja sebuah motor matic menyerempet. Di depan sudah ada gerbang kampus. Kami bergegas. Takut kalau-kalau Pak Wijayanto sudah berada di kelas menjelaskan tentang Teorema Limit. Teorema yang baru aku sadari betapa sesungguhnya tak sesederhana saat aku masih SMA. Ya, kupikir aku tidak akan bertemu lagi dengannya di semester lima ini. Tetapi sungguh yang kualami sekarang nyatanya adalah invers dari apa yang aku pikirkan. Pengembangan teorinya justru jauh lebih kompleks dari yang sudah-sudah.
Seseorang berjalan lebih cepat mendahului kami berdua.
“Kamu tidak boleh seperti itu, Zia…” Setelah melihat orang tadi, Safira langsung menggenggam tanganku dan mempercepat langkah lagi. Aku mengikuti irama kakinya. Kulihat jam di tanganku.
“Masih ingat kan apa yang aku katakan dua hari lalu?” Matanya lekat menatapku dan aku memang harus menjawab pertanyaan itu.
Aku mengangguk lesu. “Tapi rasanya sulit sekali, Fir.” Gelenganku mengikuti kemudian.Kami menyeberang. Hampir saja sebuah motor matic menyerempet. Di depan sudah ada gerbang kampus. Kami bergegas. Takut kalau-kalau Pak Wijayanto sudah berada di kelas menjelaskan tentang Teorema Limit. Teorema yang baru aku sadari betapa sesungguhnya tak sesederhana saat aku masih SMA. Ya, kupikir aku tidak akan bertemu lagi dengannya di semester lima ini. Tetapi sungguh yang kualami sekarang nyatanya adalah invers dari apa yang aku pikirkan. Pengembangan teorinya justru jauh lebih kompleks dari yang sudah-sudah.
Rabu, 01 Agustus 2012
Akankah Ramadhan Kali ini Hanya Sia – Sia Saja?
Ramadhan 1433 H kali ini, merupakan ramadhan yang
keberapa bagi kita?Bagiku, ini ramadhan yang ke-21 (melihat dari sisi umurku)..
Namun, bagaimana dengan anda? Bisa saja jauh di bawahku atau jauh di atasku anda sudah menjalaninya.
Sudah rindukah anda?
Sudah siapkah anda?
Sudah ikhlaskah anda menerima kedatangannya?
Hanya diri kitalah yang tau..
Ataukah ia hanya datang dan pergi begitu saja (seperti lagunya Letto yah?)
Yang tiada makna, tanpa amal, tanpa harapan, tanpa doa, dan yang terpenting, tanpa adanya suatu perubahan.
Jumat, 27 Juli 2012
Berhati - Hatilah dengan Pujian
Pujian mungkin bisa menumbuhkan
kepercayaan diri. Namun, pujian adalah rangkaian kata - kata yang harus anda
waspadai. Ketika anda menerima pujian, dalah hati anda akan tersanjung, lalu
mengangguk -angguk membenarkannya. Sesaat kesadaran anda lenyap terbuai oleh
perasaan yang luar biasa nikmat. Ini keruntuhan pertama. Berhati-hatilah dengan
pujian. Perlakukan ia seperti anda melihat ular berkulit indah namun
menyemburkan racun. Keruntuhan selanjutnya terjadi, bila anda mulai berkarya
karena mengharap pujian.
Pujian itu bagai air laut. Semakin
banyak diminum, semakin hauslah anda. Ia membunuh anda perlahan-lahan. Bukan
karena terlalu banyak garam yang anda reguk. Namun, karena kerakusan anda yang
tak terpuaskan. Bekerjalah dengan tulus, karena anda memiliki tujuan mulia
untuk ditunaikan. Siapkan keranjang sampah besar untuk menyingkirkan semua
pujian yang datang. Anda sama sekali tak memerlukan pujian. Anda memiliki jalan
anda sendiri.
Selasa, 17 Juli 2012
Titip Rindu Buat "Ayah"
Di matamu masih
tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan
terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan
lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah
Meski nafasmu kadang
tersengal
memikul beban yang
makin sarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti
hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu
gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar,
legam terbakar matahari
kini kurus dan
terbungkuk
Namun semangat tak
pernah pudar
meski langkahmu kadang
gemetar
kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi
kurindu
untuk menuai padi milik
kita
Tapi kerinduan tinggal
hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak
menanggung beban
Engkau telah mengerti
hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu
gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar,
legam terbakar matahari
kini kurus dan
terbungkuk
Namun semangat tak
pernah pudar
meski langkahmu kadang
gemetar
kau tetap setia
Dikutip dari lirik Ebit G Ade
Jumat, 13 Juli 2012
Jangan Menjadi Manusia Tanpa Syukur
Kupu
– kupu tak pernah tau warna sayap mereka
Tapi, orang – orang tau warna sayap mereka yang
begitu indah
Arwana tak pernah melihat warna tubuhnya
Tapi, ia tau dirinya dijadikan hiasan dalam akuarium
Tapi, ia tau dirinya dijadikan hiasan dalam akuarium
Birunya langit terbentang luas dari upuk timur
hingga barat
Tapi ia tak pernah melihat bahwa dirinya tersusun tanpa sepatok tiang
Tapi ia tak pernah melihat bahwa dirinya tersusun tanpa sepatok tiang
Angin tak pernah melihat dirinya bisa dilihat
Namun, ia begitu dibutuhkan oleh Manusia
Namun, ia begitu dibutuhkan oleh Manusia
Begitu juga dengan manusia
Kita tak pernah tau betapa indahnya kita
Hanya Allah yang tahu betapa istimewanya kita di mata-Nya
Ketika kita tunduk dalam syari’atNya
Ridho atas takdirNya
Tersenyum atas musibah dariNya
Tegar dalam ujianNya
dan Teguh dalam pendirian
Kita tak pernah tau betapa indahnya kita
Hanya Allah yang tahu betapa istimewanya kita di mata-Nya
Ketika kita tunduk dalam syari’atNya
Ridho atas takdirNya
Tersenyum atas musibah dariNya
Tegar dalam ujianNya
dan Teguh dalam pendirian
Senin, 09 Juli 2012
Ironi....
Bintang Yang bersinar
Tak selamanya terang
Begitupun mendung tak selalu jadi hujan
Hidupku hidupamu adalah keseimbangan
Pahit manis harus kita hadapi
Keindahan di mata
Tak pasti kebahagiaan
Karna kebahagiaan sesungguhnya ada di hati
Keindahan di dunia
Belum pasti di atas sana
Coba kita bertanya
Pada hati nurani
Mawar yang merekah pun bisa membuatmu
Menangis terseduh karna tertusuk durinya
Jangan sampai kita di butakan keinginan
Bahagia pasti akan kau dapati
Tak selamanya terang
Begitupun mendung tak selalu jadi hujan
Hidupku hidupamu adalah keseimbangan
Pahit manis harus kita hadapi
Keindahan di mata
Tak pasti kebahagiaan
Karna kebahagiaan sesungguhnya ada di hati
Keindahan di dunia
Belum pasti di atas sana
Coba kita bertanya
Pada hati nurani
Mawar yang merekah pun bisa membuatmu
Menangis terseduh karna tertusuk durinya
Jangan sampai kita di butakan keinginan
Bahagia pasti akan kau dapati
Langganan:
Postingan (Atom)




